Menyemai Bibit Kerja Keras Pada Diri Anak (Part 1)

Menyemai Bibit Kerja Keras Pada Diri Anak (Part 1)

Setiap orang tua menginginkan hal yang terbaik bagi anak-anaknya, dalam semua bidang kehidupan anak. Ketika menggendong bayi yang baru lahir, rasanya terlihat begitu rentan. anak-anak yang baru lahir ini menumbuhkan perasaan “dibutuhkan” pada diri orang tua. Ada perasaan ingin memberikan seluruh isi dunia kepada anak. Semua kenyamanan diberikan kepada makhluk suci yang dianugerahkanNya. Terpatri pula harapan dan doa orangtua agar anak-anak bisa menjadi lebih baik kehidupannya dibandingkan kehidupan orang tua. Semua cinta dan rasa peduli tercurah sepenuhnya untuk kenyamanan anak. Pada beberapa orangtua ada keinginan untuk tidak membiarkan anak mengalami “kesulitan” seperti yang mereka rasakan di masa lalu. Pada kadar yang wajar, hal ini memang membuat anak merasa dicintai dan nyaman. Pada kadar yang sedikit saja berlebih, kenyamanan kemudian bisa menjadikan anak sulit untuk memahami makna dari kerja keras, untuk menyadari pentingnya berjuang mencapai apa yang diinginkan.

Jika ia bisa dengan mudah mendapatkan keinginannya, ia tidak mendapatkan kesempatan untuk berusaha keras, maka ia tidak belajar untuk berjuang mencapai apapun kelak dalam kehidupannya. Selain berusaha dan bersemangat dalam bekerja untuk masa depan anak yang lebih baik, semestinya orangtua pun perlu bersemangat dalam menumbuhkembangkan kebiasaan anak untuk bekerja keras, sehingga menjadi anak yang tangguh dan tidak mudah menyerah dengan apapun kesulitan yang sedang dan akan dihadapinya. Penyediaan fasilitas fisik yang memadai bagi anak adalah hal yang boleh saja dilakukan, dan disisi lain memperhatikan kemauan bekerja keras akan memberikan efek positif bagi perkembangan psikologis anak.

Hal pertama yang dilakukan untuk bisa menyemai bibit kerja keras pada diri anak adalah dengan memperhatikan perkembangan anak berdasarkan rentang usianya. Pada anak usia 3-5 tahun, anak memiliki keinginan untuk berhasil, untuk menjadi yang terbaik (Robinson, 2008). Sementara itu pada rentang usia 5-8 tahun, anak masih kesulitan untuk menghadapi kritik ataupun menerima kegagalan. Mereka memerlukan dukungan orang dewasa untuk mengatasi perasaan-perasaan tersebut (Robinson, 2008).

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *