Cerita Merapi: Megah Candi Hati dari Abu Merapi

Usianya 75 tahun, perempuan cerdas, terbiasa bekerja keras, dan memiliki gerak gesit hingga sekarang. Suaminya meninggal dalam bencana Merapi, karena memilih tinggal di rumah untuk menjagai tanah tinggalnya.

“Mbah ini pedagang gula. Hampir tiap hari Almarhum suami Mbah pergi mencari air kelapa untuk bahan gula. Juga kayu-kayu dari hutan untuk memanaskan tungku kami. Mbah kadang membantu suami membelah kayu-kayu. Begitulah kami bekerja Nduk. Air kelapa dijerang, ditambah gula pasir agar bisa bertambah banyak. Kalau tambah banyak, keuntungannya tentu lebih banyak”

Saya tersenyum, “Kok buat gula ditambah gula Mbah? Bukannya sudah manis?”

Dia tertawa manis dengan giginya yang sudah hampir tanggal semua, “Ya memang bukan untuk menambah rasanya, tapi menambah banyaknya Nduk. Namanya kita hidup dari jualan, mengapa ndak dicari cara agar untung banyak. Soalnya kan Mbah juga mesti bayar ojeg langganan ke pasar. Selain untuk makan Mbah, suami, dan anak-anak”

Dia menambahkan dengan tangan yang sering kali menyentuh dadanya perlahan:
“Mbah ini memang sudah tua. Tapi Mbah suka bekerja. Anak-anak sudah besar semua. Mereka sudah bisa cari makan sendiri. Sekarang ini, Mbah paling sedih kalau ingat Mbah Kakung. Kami ini, selalu sama-sama. Bekerja pun berdua. Mbah Kakung tuh orangnya kalem. Mau mendengar Mbah. Mbah juga suka manut sama Mbah Kakung, kalau dia merasa yakin sama apa yang dia lakukan. Tiap hari kita selalu bicara. Kalau ada masalah, kita pasti ngobrol. Itu yang hilang sekarang. Mbah ndak ada temen bicara. Kalau sudah sendiri, Mbah ingat terus sama Mbah Kakung. Jadinya sedih. Ya wes, kalau sudah begitu, Mbah keliling-keliling cari temen ngobrol di sini. Kalau sudah ada orang lain, sudah gak ingat lagi”

Saya tersenyum. Menyentuhkan tangan ke punggungnya yang masih kuat, liat, dan terhitung tegak yang katanya sering pegal-pegal sekarang ini. Dia cerdas. Banyak dari mereka adalah orang cerdas. Belajar hidup dari mengkaji diri, terbiasa mempertahankan hidup dan kebahagiaan dengan kerja keras. Berpuluh tahun menempa badan dengan keringat dan olahan diri.

Mereka bukan butuh bantuan yang diberikan dari arah atas dan diterima dengan tangan di bawah. Itu akan menguras habis rasa bermaknanya. Mereka lebih butuh berbagi, bekerja kembali, dan tanah yang akan menjadi rumahnya…

Tahukah Mbah apa yang ingin saya sampaikan? Di hati Mbah ada candi yang megah, dan candi itu terbangun dari abu Merapi…

#Lokasi Pengungsian Kraguman, Klaten, Jawa Tengah#

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *