Kisah Dua Pemuda dan Pemudi Subang dalam Mengembangkan Usaha

“Bergegas lalu kerjakanlah segala sesuatunya untuk hari ini, hari esok, dan hari seterusnya”

Keken Widayana 19 tahun, berasal dari Dusun Caracas I, Desa Caracas, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Anak muda yang memiliki hobi olah raga voli dan sepak bola ini, masih tinggal bersama orang tua dan empat orang saudara kandung di sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan gang/jalan kampung . Keken merupakan lulusan Madrasah Aliyah (setingkat SMA) memiliki keseharian membantu usaha orang tuanya dalam pembuatan opak singkong sambil berjualan pisang krispi dengan berkeliling.

Pada awal tahun 2019, Keken yang bergabung dalam kelompok “Papatong Speed” (nama kelompok anak muda yang ada di Dusun Caracas I) mendapatkan informasi dari tokoh pemuda yang ada di sana mengenai Program Kesiapan Kerja bagi anak muda yang dilaksanakan oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik dan Yayasan IBU. Keken pada saat itu memutuskan untuk bergabung dengan program tersebut dengan harapan dapat memperoleh wawasan, pengetahuan baru, dan meningkatkan kepercayaan diri. Keken pada awalnya sangat pemalu dan tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum. Setelah mengikuti Pelatihan Soft Skills dan Kewirausahaan, Keken sudah sangat percaya diri dan mulai memberanikan diri menjadi MC di acara ulang tahun, atau acara nikahan yang diadakan di daerah tempat tinggalnya. Melalui Program Kesiapan Kerja ini, Keken semakin dapat mengenali dirinya. Keken dapat mengetahui potensi yang ada dalam dirinya, dan semakin percaya diri terutama berbicara di depan umum. Keken juga sudah pernah dipanggil oleh sekolahnya dulu untuk memberikan motivasi mengenai kewirausahaan kepada adik-adik siswa.

Keken merasa semakin disiplin dalam mengelola waktu dan semakin bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diemban setelah mengikuti Program Kesiapan Kerja. Keken semakin yakin bahwa orientasinya saat ini bukan sebagai pekerja. Keken sudah mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai kewirausahaan untuk lebih meningkatkan kualitas usaha pisang krispi dan mendapat penghasilan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Keken juga sudah dapat menyisihkan dari hasil berjualan pisang krispi ini untuk ditabung untuk mengembangkan usahanya. Tahun ini, Keken bercita-cita dan sudah mempersiapkan diri untuk membuka toko pisang krispi. Namun karena adiknya yang masih sekolah membutuhkan motor untuk transportasi ke sekolah, maka Keken harus menunda dulu cita-citanya, karena dia lebih mengutamakan membayar cicilan motor untuk adiknya.

Keken menjadi salah satu pelopor dari usaha “Papatong Chips” yang dijalankan oleh rekan-rekannya di kelompok usaha “Papatong Speed”. Saat ini, 6 orang rekannya sesama alumni Program Kesiapan Kerja bagi anak muda menjalankan usaha pembuatan keripik opak singkong yang diinovasi dengan berbagai macam varian rasa. Usaha tersebut telah berjalan selama 3 bulan dan memiliki beberapa orang reseller di beberapa pabrik wilayah Kabupaten Subang dan Cikarang.

“Bebaskan Diri dari Tiga Belenggu; Ketakutan, Terlalu Berharap, dan Cara Berpikir”

Mari berkenalan dengan Nengsih, seorang perempuan yang baru saja melepas masa lajangnya beberapa di usia 20 tahun. Nengsih berasal dari Dusun Sudi Mampir, Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Nengsih sudah lulus SMA dan saat ini masih tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah yang sangat dekat dengan Jalan Tol Cikopo-Palimanan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah, Nengsih memutuskan untuk bekerja di sebuah pabrik yang berada di kawasan Kota Subang, namun bekerja di pabrik rupanya tidak sesuai dengan cita-citanya sehingga dia merasa tidak betah. Nengsih memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Setelah berhenti dari pekerjaannya, Nengsih kemudian membantu usaha ibunya untuk menjual makanan siap saji dengan berkeliling.

Hingga akhir tahun 2018, Nengsih mendapatkan informasi dari Karang Taruna Desa Kaliangsana mengenai Program Kesiapan Kerja bagi anak muda yang dilkasanakan oleh Yayasan IBU dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik. Nengsih kemudian mengikuti program tersebut dengan harapan dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan baru terkait soft skills dan kewirausahaan. Setelah mengikuti pelatihan, Nengsih semakin menyadari bahwa potensi yang paling bisa dikembangkan dari dalam dirinya adalah memasak. Ia juga semakin percaya diri bahwa hobi tersebut dapat dikembangkan untuk menghasilkan pendapatan. Nengsih semakin terpacu untuk mengembangkan usaha kuliner yang tengah dijalankan bersama ibunya. Saat ini Nengsih sudah dapat membangun warung nasi dan tidak lagi berkeliling untuk berjualan masakan siap saji, karena Nengsih sudah mempunyai reseller untuk menjual dagangannya.

Nengsih memiliki tips: “Bebaskan diri dari 3 belenggu; ketakutan, terlalu berharap, dan cara berpikir”. Pertama, jadilah orang yang percaya diri, jangan menjadi seseorang yang mudah menyerah. Jika ada peluang, ambil saja, jangan pernah takut dengan risiko. Kedua jangan terlalu berharap akan kemudahan, karena setiap usaha pasti ada risiko mengalami kegagalan, tidak bisa langsung berhasil karena sukses membutuhkan proses yang panjang. Ketiga, berpikir itu harus tapi bebaskan pikiran kita dari hal-hal yang jelimet (rumit). Berpikirlah dengan sederhana, karena dengan berpikir sederhana semakin mudah bagi kita untuk menemukan solusi.

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *