Manfaat Daun Katuk untuk Produksi ASI

Setiap minggu pertama Bulan Agustus dijadikan sebagai “Pekan ASI Sedunia”, dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya ASI bagi bayi. Tema peringatan Pekan ASI Sedunia adalah “breastfeeding a key to Sustainable Development” dengan tema nasional “Ibu menyusui sampai dua tahun lebih hemat, anak sehat dan cerdas; dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera. Dengan adanya Pekan ASI sedunia masyarakat dapat mengetahui dan mendukung manfaat menyusui anak hingga umur dua tahun serta mensosialisasikan pola menyusui dan pemberian makanan pendamping yang tepat pada bayi dan anak.

Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan akut. Kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang. Zat kekebalan yang terdapat pada ASI antara lain akan melindungi bayi dari penyakit diare dan menurunkan kemungkinan bayi terkena penyakit infeksi telinga, batuk, pilek, dan penyakit alergi.

Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007 menunjukan cakupan ASI Ekslusif bayi 0-6 bulan sebesar 32% dan mengalami kenaikan yang bermakna menjadi 42% pada tahun 2012, namun meskipun mengalami kenaikan, masih dibawah target nasional pencapaian ASI Ekslusif tahun 2012 yaitu sebesar 80% (Infodatin ASI, Depkes 2014).

Beberapa faktor penghambat pemberian ASI ekslusif pada Ibu menyusui, yaitu pekerjaan ibu, faktor psikologis, faktor fisik seperti tidak keluarnya ASI dari Ibu, kurangnya dukungan dari keluarga, kurangnya dukungan dari petugas kesehatan, dan meningkatnya promosi susu kaleng.

Tulisan ini akan membahas salah satu faktor penghambat pemberian ASI Ekslusif, yaitu tidak keluarnya ASI dan efektifitas dari daun katuk dalam meningkatkan produksi ASI. Penyebab air susu tidak keluar karena hormon prolaktin yang merangsang pengeluaran ASI dihambat oleh Prolactin Inhibiting Hormone (PIH) atau Hormon penghambar Prolaktin.

Daun Katuk secara tradisional sudah dikonsumsi oleh masyarakat khususnya ibu yang sedang menyusui karena dapat meningkatkan produksi ASI. Berdasarkan jurnal penelitian yang dipublikasikan oleh Media Litbang Kesehatan pada tahun 2004, pemberian ekstrak daun katuk pada kelompok ibu melahirkan dan menyusui bayinya dapat meningkatkan produksi sebanyak 66,7ml atau 50,7% lebih banyak dibandingkan dengan kelompok ibu melahirkan dan menyusui yang tidak diberi ekstrak daun katuk. Pemberian ekstrak daun katuk dimulai pada hari ke – 2 atau hari ke – 3 setelah melahirkan selama 15 hari terus menerus dengan dosis 3 x 300mg/hari. Pemberian ekstrak daun katuk tidak menurunkan kadar protein dan lemak ASI.

Selain kaya akan protein, lemak dan mineral, daun katuk juga diperkaya dengan kandungan vitamin A, B dan C, kemudian tanin, saponin dan alkaloid papaverin. Kandungan alkaloid dan sterol dari daun katuk dapat meningkatkan produksi ASI menjadi lebih banyak karena dapat meningkatkan metabolisme glukosa untuk sintesis laktosa sehingga produksi ASI meningkat. Dalam Australian Dietary Guidelines, menyarankan untuk konsumsi sayuran hijau salah satunya katuk sebagai makanan yang menyehatkan untuk ibu menyusui.

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *