Menyemai Bibit Kerja Keras Pada Diri Anak (Part 2)

Menyemai Bibit Kerja Keras Pada Diri Anak (Part 2)

Pengetahuan tentang kemampuan anak sesuai usia perkembangannya diperlukan agar intervensi yang diberikan tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan anak. Usia perkembangan anak yang berbeda tentu berdampak pada tugas perkembangan yang juga berbeda. Tugas perkembangan yang mesti dipenuhi anak pada usia tertentu ini selalu berada dalam rentang, tidak mutlak pada satu usia. Hal ini adalah bentuk pemahaman atas keunikan anak. Contohnya pada panduan tumbuh kembang anak, usia normal anak bisa berjalan adalah pada rentang 11-18 bulan, tidak mutlak pada usia 12 bulan harus bisa berjalan.

Stimulasi tentang pentingnya kerja keras pada anak usia dini (pra sekolah) juga mesti memperhatikan rentang usia anak, mempertimbangkan kemampuan yang dikembangkan anak pada usia tertentu. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menyemai bibit kerja keras pada anak pra sekolah sesuai dengan usia perkembangannya.

1) Fokuslah selalu pada proses. Berikan penghargaan pada usaha anak melakukan sesuatu. Misalnya pada seorang anak usia 4 tahun yang berkali-kali mencoba memasukkan bola ke dalam keranjang berikan apresiasi karena ia mau terus mencoba.

2) Libatkan anak dalam menyelesaikan kesulitan, tidak melulu membantunya. Anak perlu mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah, tidak dibantu terus menerus. Jikapun akan dibantu, maka berikan saran dan biarkan anak melakukannya. Misalnya anak berusia 3 tahun yang kesulitan mengambil buku di rak. Berikan saran sangat diperbolehkan, misalnya: “Sepertinya kamu tidak bisa ambil bukunya karena tinggi ya? Bagaimana kalau kamu tarik kursi itu dan naik diatasnya, sepertinya bukunya bisa diambil. Atau kamu ada cara lain?”

3) Jadilah contoh. Ketika ingin anak memiliki semangat bekerja keras, maka semestinya orang dewasa di sekeliling anak, terutama orang tua, mesti bisa dilihat sebagai sosok yang suka bekerja keras, tidak menggampangkan sesuatu hal. Anak pra sekolah bertingkah laku dengan meniru dan melihat tingkah laku orang-orang yang sering berinteraksi dengannya.

4) Bercerita tentang tokoh-tokoh yang hidupnya memiliki semangat kerja keras, akan sangat membantu ketika tokoh-tokoh tersebut berada dibidang yang sedang dia sukai atau yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Jika anak usia 6 tahun menyukai olahraga sepakbola misalnya, ceritakan biografi seorang pemain sepakbola yang senantiasa disiplin dalam latihan, tentang perjuangan dan kerja keras yang dilakukan pemain tersebut.

5) Dampingi anak ketika merasa gagal. Anak usia 6 tahun masih wajar untuk sulit untuk menerima kekalahan dan akan sulit pula menerima kritikan. Dampingi mereka yang merasa dirinya kalah, biarkan dia melepaskan frustrasinya karena kekalahan yang baginya terasa menyakitkan. Kekalahan ini tidak selalu kalah dalam perlombaan, namun bisa saja karena merasa tidak bisa mewarnai serapi teman-teman yang lain. Mungkin saja dia tidak bisa jadi anak yang berani bermain flying fox seperti teman yang lain. Tunjukkan dan katakan bahwa kita tetap menyayanginya. Jika sudah tenang, bantu ia untuk bangkit dari keterpurukannya, dengan cara yang sesuai dengan karakteristiknya. Temukan strategi dan cara supaya ia bisa kembali percaya pada kemampuan dirinya serta kembali bersemangat mencoba.

6) Kerja keras adalah hal menantang yang menyenangkan. Selalu mulailah segala sesuatu dari hal yang dirasa sudah dikuasai anak, kemudian secara bertahap berikan tugas yang lebih sulit. Pengalaman berhasil dalam melakukan sesuatu merupakan hal penting bagi anak. Misalkan saja ketika bermain puzzle, mulai dari 4 keping puzzle, pastikan anak menikmati proses penyelesaian puzzle, baru beralih kepada puzzle 6 keping misalnya. Media belajar sambil bermain merupakan cara yang efektif bagi anak belajar keterampilan baru.

Catatan: Kerja keras merupakan nilai positif yang akan turut andil dalam meningkatkan daya juang anak menghadapi segala sesuatu dalam kehidupannya sekarang dan di masa yang akan datang. Jangan ambil kesempatan anak untuk belajar dari kesulitan-kesulitan yang didapatkan. Kenali dan manfaatkan kelebihan pada diri anak untuk memfasilitasi semangat kerja kerasnya.

Sumber bacaan: Robinson, Maria. (2008) Child Development 0-8 A Journey throughThe Early Years. London:McGrawHill

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *