Sibling Rivalry (Persaingan Antar Saudara) Part 1

Sibling Rivalry (Persaingan Antar Saudara) Part 1

Kelahiran seorang anak dalam keluarga pada umumnya adalah hal yang dinantikan, hal yang ditunggu-tunggu, hal yang menyenangkan. Begitu anak lahir, ia mendapat seluruh curahan kasih sayang dari orang-orang terdekat dengannya. Duniapun berputar di sekeliling anak tersebut, ia menjadi pusat perhatian, semua tingkah lakunya begitu menggemaskan dan lucu, semua memberi perhatian lebih padanya. Sampai kemudian adiknya lahir, dan orang-orang berpaling kepada sang adik kecil, memberikan perhatian kepada adiknya, dan tiba-tiba ia tidak lagi menjadi pusat perhatian, ia tidak lagi menjadi satu-satunya buah hati orang tuanya. Sebaliknya, hal yang sama bisa saja terjadi pada sang adik, yang akan berusaha mendapatkan perhatian orang tuanya. Banyak dijumpai bahwa anak yang lahir pertama akan menjadi patokan bagi orang tua untuk segala sesuatunya, contohnya menjadi anak yang teladan. Beberapa anak kemudian mulai berkompetisi dengan saudara kandungnya untuk mendapatkan perhatian orang tua, untuk menjadi kebanggaan orang tua, untuk mendapatkan kasih sayang orang tua. Pertanyaannya kemudian adalah normal kah persaingan tersebut? Apakah perlu dihindari?

Sibling rivalry merupakan bentuk dari kecemburuan yang dimiliki oleh anak kepada saudaranya. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. Schaefer (1981) mengatakan merupakan hal yang normal sebenarnya bagi anak untuk saling berdebat, berargumen, tentang segala sesuatu. Batasan dimana hal itu menjadi hal yang normal, yaitu jika anak-anak juga berbagi hal yang menyenangkan satu sama lain. Ada kalanya saling mengolok-olok merupakan cara mereka untuk saling bergembira dan perdebatan atau cekcok yang terjadi antara sesama saudara tidak selalu berakibat negatif. Lebih lanjut dikatakan perdebatan seringkali mengajarkan anak tentang bagaimana mereka mempertahankan diridan berjuang untuk mendapatkan hak mereka, mengeskpresikan perasaan, serta melatih mereka untuk menyelesaikan konflik. Saling teriak, saling tunjuk, mungkin saja terjadi. Permasalahannya bisa saja menurut kita adalah hal yang sepele.

Jika kondisinya seperti ini, orang tua perlu membiarkan mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri, cukup perhatikan saja apa yang terjadi. Jika kemudian perdebatan tersebut mengarah kepada kata-kata yang sangat menghina yang menunjukan meremehkan, disertai dengan tindakan fisik, maka pada saat ini orang tua perlu melerai, perlu mengintervensi, terutama jika orang tua memiliki pandangan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan pertikaian. Penanganan sibling rivalry secara tepat akan berdampak pada pola relasi dalam keluarga antara sesama anak, serta anak dengan orangtuanya, yang kemudian berdampak pada bagaimana anak berelasi dengan lingkungan sosialnya, dengan teman-temannya ketika remaja, dengan masa depannya saat akan memutuskan memilih bidang yang akan ditekuni, dengan sosok otoritas ketika berada di dunia kerja.

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *