Sibling Rivalry (Persaingan Antar Saudara) Part 2

Sibling Rivalry (Persaingan Antar Saudara) Part 2

Persaingan, kompetisi, kecemburuan antar saudara lebih sering terjadi antara dua anak dengan jenis kelamin yang sama, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut terjadi pada anak dengan jenis kelamin yang berbeda. Perlu dilakukan langkah-langkah bijak dari orang tua untuk memfasilitasi persaingan ini sehingga tidak menjadi hal yang bersifat negatif dan menghambat perkembangan anak. Hal-hal yang bisa dilakukan orangtua untuk meminimalisir terjadinya persaingan antar anak dalam keluarga adalah seperti yang dikatakan dalam Schaefer, (1981):

  • Perlakukan setiap anak dengan adil, hindari untuk “menganakemaskan”, memfavoritkan salah satu anak, apapun alasannya. Tanyakan dan evaluasi diri sendiri jika dalam sebulan belakangan apakahlebih senang menghabiskan waktu dengan salah satu anak saja, lebih suka berbicara dan berdiskusi dengan satu anak saja, lebih menghabiskan uang untuk satu anak saja, lebih sering bersenda gurau dengan satu anak saja? Belajar untuk lebih terbuka dengan respon anak dan tidak ada salahnya untuk menanyakan kepada anak apakah mereka merasa ada salah satu anak yang menjadi favorit orangtua atau tidak, sehingga akan mempermudah evaluasi ini. Hal ini bisa dilakukan pada anak yang sudah lancar berbicara. Membanding-bandingkan anak jikapun ingin dilakukan, jaga agar tidak sampai terucap, terima hal itu sebagai perbedaan antar anak karena memang tiap anak unik, dan fokus pada usaha untuk lebih mengenal pribadi tiap anak, apa yang bisa dikembangkan potensinya, daripada fokus pada anak mana yang lebih memenuhi harapan dan ambisi kita sebagai orangtua. Membanding-bandingkan anak tidak akan memotivasi anak untuk menjadi lebih baik, namun memberitahukan kelebihan masing masing anak akan membuat anak dihargai. Daripada mengatakan : lihat, kakak lebih shaleh dari adik, lebih baik fokus pada pencapaian masing-masing anak, misalnya dengan mengatakan: ibu/ayah senang melihat kakak mulai rajin shalatnya, ibu/ayah juga senang melihat adik semangat menghapal doa makan dan sebelum tidur.  Ada pemahaman terhadap usaha anak untuk menjadi lebih baik. Dan bersabar dengan pencapaian tiap anak.
  • Persiapkan anak dengan kelahiran adiknya (lebih kepada anak pertama). Libatkan anak pada kegiatan-kegiatan persiapan sebelum adiknya lahir, informasikan bahwa ia akan memiliki adik dan jika sudah bisa diajak bicara, bicarakan perasaan Anda sebagai orangtua kepadanya tentang kelahiran anak baru. Jawab setiap keresahan yang mungkin ditanyakan. Beberapa anak akan mengungkapkan kekhawatiran jika adiknya lahir apakah orangtua akan lebih sayang kepada adiknya, ada juga yang mengungkapkan bahwa jika adiknya lahir maka adiknya bermain bersama ayahnya, sementara ia bersama ibunya. Pahami keresahan anak, ajak untuk berdiskusi dan menjelaskan secara konkrit bahwa lahirnya adik baru berarti sayang orangtua sekarang untuk dirinya dan adiknya, bahwa adiknya akan disayangi oleh orangtua dan kakaknya, dan kakaknya disayangi oleh orangtua dan adiknya. Tekadkan hal tersebut dalam hati Anda sebagai orang tua untuk pengingat ketika Anda mulai cenderung menganakemaskan salah satu anak. Beberapa orangtua memiliki strategi untuk tidak dalam posisi menggendong atau menyusui adik ketika kakaknya pertama kali bertemu dengan adiknya, namun pada saat adiknya berada diatas kasur, dalam kondisi tenang, barulah kemudian sambil memeluk sang kakak, kedua orangtua memperkenalkan kepada adiknya.
  • Perlakukan setiap anak sesuai dengan karakternya, kenali perbedaan, hobi, dan kesukaan anak, sehingga kemudian akan terhindar dari memberikan hadiah yang sama untuk setiap anak misalnya. Hal ini memerlukan banyak latihan dan berproses, dimana orangtua perlu untuk menikmati setiap proses tersebut. Boleh juga ditanyakan kepada anak hadiah apa yang mereka inginkan, dan berhati-hatilah ketika anak seringkali berkata “terserah” jika ditanyakan apa yang diinginkan. Untuk anak yang sulit memutuskan apa yang diinginkan, orangtua bisa mempersempit menjadi 2 pilihan yang menurut Anda menjadi kesukaan anak.
  • Luangkan waktu untuk anak-anak Anda. Sebagai orangtua, selalu sisihkan waktu untuk seluruh anak-anak secara bersama, beraktivitas bersama, berlibur bersama, bermain bersama, sehingga membangun perasaan positif antar anggota keluarga, yang diharapkan akan bisa menyaring perasaan negatif. Orang tua juga perlu memiliki waktu pribadi dengan tiap-tiap anak, membiarkan ia menjadi satu-satunya pusat perhatian Anda dalam waktu yang telah Anda jadwalkan atau rencanakan. Hindari untuk membicarakan saudaranya yang lain pada saat itu.Dengarkan, diskusi, dan lakukan kegiatan menyenangkan bersamanya, biarkan ia menjadi satu-satunya anak Anda pada saat itu. Karena yang dibutuhkan anak sebenarnya adalah cinta, perhatian, dan kebutuhan untuk menjadi satu-satunya. Terapkan ini pada setiap anak Anda, semakin sering Anda meluangkan waktu eksklusif pada tiap anak, maka akan semakin berkurang persaingan mereka dalam mencari perhatian orang tua. Berhati-hatilah dengan pengaruh gadget yang menyebabkan komunikasi orang tua dengan anak menjadi tidak interaktif. Dorong diri Anda untuk lebih kreatif dan membuka diri ketika bersama anak, dan sadari waktu akan cepat berganti dan masa-masa kedekatan dengan anak akan cepat mengalami perubahan intensitas dan bentuk. Jangan pelit untuk memeluk, merangkul, dan tertawa bersama anak.
  • Menjarakkan kelahiran. Persaingan antar saudara cenderung lebih sedikit ketika jarak usia anak dengan saudaranya adalah 3,5 – 5 tahun. Pada usia 3 tahun anak mulai belajar untuk berbagi perhatian orang tua (Schaefer, 1981), sudah lebih siap untuk kelahiran anak selanjutnya. Hal ini tentu saja akan sangat terbantu ketika sebagai orangtua — Anda konsisten menerapkan kemandirian dan aturan-aturan kepada anak dengan fleksibilitasnya, dan menemukan bentuk komunikasi yang “pas” sebelum memutuskan untuk memiliki anak lagi.
  • Berikan ruang pada anak untuk privacy nya. Usahakan untuk memisahkan tempat tidur dan lemari pakaian anak, ada batas yang jelas antara barang-barang kepemilikan anak antara anak satu dengan anak lainnya. Terapkan peraturan dirumah untuk saling menghargai privacy, untuk meminta izin dahulu sebelum memakai atau menggunakan barang yang bukan merupakan miliknya. Hati-hati dengan kecenderungan meminta kakak untuk mengalah dan membiarkan adiknya menggunakan barang miliknya, apalagi jika sang adik memaksa dengan rengekan dan orang tua mengeluarkan kata : “kasihan, adik masih kecil”. Sebagai orang tua mungkin kita perlu sedikit repot untuk mengalihkan adik dari barang yang bukan miliknya, untuk tidak memaksa kakak berbagi barang pribadinya. Nilai berbagi antar saudara mungkin bisa kita ajarkan, berikan kepada anak, namun yang paling penting adalah menghargai keputusan anak untuk mengelompokkan apa yang bisa ia bagi, dan mana yang tidak bisa ia bagi. Berikan reward kepada anak ketika ia mau berbagi. Hindari untuk bersikap terlalu protektif kepada anak yang lebih kecil, memanjakan, atau menuruti setiap kemauannya, karena ia juga perlu untuk menghargai hak orang lain serta berbagi perhatian orang tuanya.
  • Yang paling penting adalah bagaimana hubungan Anda dipandang oleh anak-anak Anda. Apakah sebagai pasangan, sebagai orangtua, Anda menghargai pasangan Anda, menyelesaikan konflik, saling mencintai dan memberi perhatian? Karena pola interaksi antara ayah dan ibu adalah contoh pertama dan pondasi yang akan ditiru anak. Mungkin jika sebagai orangtua merasa belum menghargai pasangan Anda, belum berdebat dan menyelesaikan konflik dengan baik, ada baiknya hal tersebut dilakukan sebagai peningkatan hubungan suami-istri-anak.

Selain hal-hal yang bisa dilakukan orangtua untuk meminimalisir terjadinya persaingan antar kakak adik, bukan berarti tidak akan terjadi perdebatan atau pertengkaran antara mereka, karena setiap individu pasti akan memiliki gesekan dengan individu lain terkait kebutuhan dan keinginannya yang bisa saja tidak selaras dengan individu lain, karena ada perbedaan individual. Beberapa hal berikut merupakan cara yang bisa dilakukan orangtua ketika anak bertengkar atau beradu pendapat:

  • Abaikan, terutama jika Anda memperhatikan bahwa pertikaian yang terjadi adalah mengenai hal yang sepele dan tidak berpotensi kepada saling hina dan atau saling pukul. Biarkan anak berproses menyelesaikan konflik mereka tanpa ketergantungan pada orang dewasa.
  • Intervensi bukan sebagai pihak yang menyalahkan salah satu anak, namun lebih berperan sebagai negosiator yang duduk bersama anak dan mengajari mereka kemampuan penyelesaian masalah yang efektif. Berbagai cara intervensi yang bisa dilakukan secara bertahap adalah:
  • Ajari anak untuk mengekspresikan rasa marah atau terganggu tentang perilaku saudaranya. Hal ini penting dilakukan daripada mereka memendam perasaan tersebut yang kemudian seperti bom waktu, akan meledak pada saat yang tidak disangka-sangka. Perasaan marah adalah sesuatu yang normal dan perlu diungkapkan dengan asertif (menyatakan apa haknya, apa keinginannya, dan bagaimana perasaannya), tapi tidak dengan cara yang agresif (menghina, menyakiti, memukul, menendang).
  • Meminta mereka untuk meredakan amarahnya dengan duduk bersama sebelum kemudian mengajarkan bahwa kompromi bisa merupakan cara menyelesaikan pertikaian. Ini bisa dilakukan pada anak yang sudah berusia 7 tahun ke atas. Ajari anak bahwa mereka memiliki pilihan untuk menerima atau mengacuhkan godaan saudaranya untuk bertengkar, sehingga ketika dimasa yang akan datang saudara mereka menggodanya, ia bisa belajar untuk mengacuhkannya. Hal ini juga berarti Anda memberikan alternatif lain selain menjadi agresif untuk menyelesaikan konflik.
  • Menjadi hakim. Hal ini bisa dilakukan ketika Anda tahu bahwa satu anak memang harus disalahkan atau salah satu anak tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Pertemukan kedua anak, atau bicara terpisah. Pastikan Anda mendengar masalah dari kedua sisi. Bahasakan konflik dengan bahasa Anda sendiri. Minta anak untuk mengkoreksi apakah benar atau salah permasalahannya seperti itu. Pastikan semua opini/alasan diketahui, argumen-argumen dilihat, dan keputusannya semestinya dipahami oleh kedua belah pihak, misalnya: “Malik, sepeda itu milik Ridwan, abangmu. Minta izin kalau kamu mau meminjamnya, dan Ridwan, berbaiklah kepada malik, kadang-kadang kamu juga suka bermain dengan mainannya.”Dengan cara ini anak belajar tentang keadilan dan bagaimana memiliki aturan terhadap sesuatu

Teknik berbeda bisa dilakukan jika anak-anak sering sekali bertengkar, intensitas tinggi dan hampir selalu bertengkar tiap kali bersama, yaitu:

  • Dengan metode reward. Misalnya bisa dikatakan : “Jika kalian bisa bermain bersama sepanjang sore ini (mesti ada batasan waktu bersama yang akan dikontrol) tanpa memukul, berkelahi, atau mengumpat, ibu/ayah akan memberikan kejutan. Kejutannya adalah sesuatu yang kalian berdua sukai. Tapi jika salah satu mulai bertengkar, tidak ada satupun dari kalian yang akan dapat kejutan.” Kejutan bisa berupa makanan ringan kesukaan, mainan kecil, atau piknik bersama.
  • Memberikan penalti, misalkan dengan mengatakan: “Jika kalian tidak bisa bermain bersama, kalian berdua akan dihukum. Tiap kalian duduk berdiam diri disudut berbeda selama 10 menit tanpa melakukan apa-apa dan kembali setelah 10 menit. Jika masih bertengkar, kalian akan kembali ke sudut ruangan dalam waktu yg lebih lama. Tidak peduli siapa yg memulai.”Diam 10 menit tanpa melakukan apa-apa bagi anak adalah suatu hal yang tidak mengenakkan, berbeda dengan orang dewasa yang mungkin menganggap 10 menit tanpa melakukan apa-apa adalah suatu yang biasa. Penalti juga bisa dilakukan dengan mengambil benda yang membuat mereka bertengkar, dan mengembalikannya jika mereka sudah bisa memutuskan siapa yang dapat benda tersebut dan bagaimana mereka mengaturnya. Jika tentang berebut menonton program TV, Anda bisa mengatakan bahwa mereka tidak diijinkan menonton TV sampai bisa memutuskan kapan dan siapa yang bisa menonton TV.
  • Memberikan wadah untuk melampiaskan kemarahan, misalnya kakak yang memukul adiknya yang masih bayi bisa diberikan boneka bayi dan boleh melampiaskan amarah ke boneka tersebut. Jika mau, ia boleh menggambar saudaranya tersebut dan meletakkan dipohon, dan panah gambar tersebut seolah-olah itu adalah adiknya. Melampiaskan kemarahan tanpa menyakiti orang atau binatang, atau makhluk hidup, atau merusak barang-barang merupakan hal yang perlu dilakukan, karena kemarahan adalah satu bentuk emosi yang tidak boleh ditahan, yang perlu dikontrol adalah pelampiasan marah tersebut. Beberapa meminta anaknya memukul bantal untuk mengeluarkan energi yang dihasilkan dari rasa marah, menuliskannya, menggambar, apapun medianya. Tindakan ini sekaligus upaya Anda untuk mengajarkan batasan tidak boleh dalam kondisi apapun,memukul atau menghina saudara. Jangan biarkan kekerasan dalam keluarga kemudian membuat anak menyimpulkan bahwa memukul orang yang salah itu diperbolahkan.Terapkan dan perbaiki diri Anda terlebih dahulu, bagaimana hubungan Anda dengan orang-orang yang ada di sekitar lingkungan Anda, sementara anak belajar untuk menghindari jalan kekerasan.
  • Bergabung dengan anak dan bermain bersama mereka untuk mengurangi tegangan antar anak, dan bisa membuat anak fokus pada kegiatan bersama tersebut. Anak akan mampu mengalihkan diri dari stimulus yang membuat mereka bertengkar dengan saudaranya, dan beralih untuk beraktivitas bersama saudaranya dan Anda secara bersama-sama. Untuk itu Anda perlu berkreasi menciptakan permainan menyenangkan yang bisa dilakukan bersama-sama dengan anak dengan tetap memberikan sentuhan-sentuhan dan kata-kata yang mengungkapkan bahwa Anda menyayangi mereka.

Pisahkan kegiatan anak, kurangi kondisi dimana anak mesti bertemu dalam waktu yang sama, misalnya pisahkan waktu mereka untuk makan, atau mengerjakan PR. Beberapa anak mungkin membutuhkan waktu sedikit untuk bersama dengan saudaranya. Pahami saja, dan sedikit demi sedikit Anda bisa menambah jumlah waktu mereka untuk bersama, dan jikapun tidak, Anda bisa membuat waktu mereka yang sedikit tersebut menjadi berkualitas.

CATATAN: Setiap anak membutuhkan kasih sayang yang sama besarnya dari orangtua, dan mereka akan belajar banyak hal tentang kehidupan dari interaksi dengan kakak/adiknya. Jadilah orangtua yang memfasilitasi proses pembelajaran mereka, pahami kebutuhan mereka, evaluasi diri setiap saat dan senantiasa meyakini bahwa kehadiran anak-anak adalah salah satu kesempatan untuk belajar mencintai tanpa pamrih.

 

Referensi Bacaan:

  • Millman, Howard & Schaefer Charles (1981). : How to Help Children with Common Problems. Page 248-257. Van Nostrand Reinhold Company Inc, USA

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *